Senin, 18 Februari 2013

Mari Menulis





Menulis, bukanlah kata-kata yang asing lagi didengar. Terlepas dari menulis yang bagaimana, yang jelas tulis menulis tidak bisa terpisahkan dari sebuah perjalanan. Namun perlu digaris bawahi bahwa kata menulis bagi anak TK, SD sampai mahasiswa tidaklah sama. Pada jenjang awal, menulis lebih pada melukis berbagai karakter di atas sebuah kertassebgai tujuab utama tanpa memperhatikan makna. Hal ini tidak bisa disamakan dengan menulis bagi mereka yang pada tahap lanjutan. Kecuali hal ini sebagai sebuah pertanda dari tidak adanya perubahan dan peningkatan.
Berbicara tentang tulis menulis ini, banyak hal persuasive yang memonpa ketertarikan tapi jarang diperhatikan. Entah itu kata-kata bijak, pepatah atau petuah-petuah yang berasal dari mereka yang melegenda bahkan dari Tuhan lewat agama. Kalau pepatah Arab mengatakan man hafidza farra wa man kataba qarra (barang saiapa menyimpan sesuatu (ide) dalam bentuk hafalan akan menghilang, sedangkan mereka yang menyimpan sesuatu dalam bentuk sebuah tulisan akan tetap dalam keabadian). Sebuah tulisan selalu menjadi wakil manusia dalam sebuah kehidupan sementara mereka dalam kematian. Dan mereka yang tidak pernah menulis sebenarnya telah menjemput kematiannya terlebih dahulu sebelum waktu yang ditentukan.
Untuk menjadi seorang penulis sebenarnya tidaklah sulit. Tulis menulis bukanlah sesuatu yang dibatasi oleh bakat. Seseorang hanya membutuhkan keinginan kuat yang ditopang oleh sebuah impian agar lebih progresif. Berawal dari sebuah oret-oretan yang kadang menggelikan sampai pada sebuah tulisan yang dipertimbangkan. Semua ini membutuhkan kesabaran, tidak seperti sulap yang dapat merubah keadaan dalam sekali pandang. Tuhan saja dalam penciptaan mengajarkan bahwa prose situ merupakan keniscayaan.
Berbagai kegagalan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Padanya kita belajar untuk lebih tanggap dan pintar, menjadikannya sebagai cemeti yang membuat kita lari lebih kencang dalam menggapai sebuah harapan. Bukan lantas tertunduk lesu dan membiarkan kesempatan terus berlalu. Kalau kita mengerti tentang waktu, tak mungkin kita biarkan semuanya berlalu tanpa mengerjakan sesuatu yang lebih berarti sementara dia tidak datang dua kali.
Mencoba dan terus mencoba tanpa lelah apa lagi sampai menyerah. Mencari celah di mana ada salah agar tulisan kita semakin sempurna. Hal ini menjadi sesuatu yang penting. Dan hanya mereka yang gila yang setia pada salah dengan lelah dan menyerah. Tidak berani berpacu dengan waktu dan membiarkan dirinya terbunuh.
Dalam sebuah pembelajaran, rasa malu terkadang sering mengganggu. Memaksa kita untuk terus membeku dan bangga pada kebodohan yang terus membelenggu. Pada akhirnya kita terus mengeluh. Mengharapkan sesuatu datang lebih dahulu tanpa dijemput dengan waktu. Hal ini menjadi hal aneh yang sering dianggap remeh. Mereka yang malu sebenarnya tidak tahu kalau sikapnya akan membuat dirinya jauh lebih merasa malu pada suatu waktu. Dan terkadang rasa malu sebenarnya merupakan implementasi dari ketidakjujuran atau kemalasan yang tersimpan. Semua ini perlu dilawan jika kita masih yakin kalau kehidupan masih panjang, bahkan setelah kematian.
Untuk menulis, kita tidak perlu terikat dengan waktu. Kapan pun dan di mana pun, kita bisa mengerjakan hal itu. Setiap ide itu datang, kita harus langsung salurkan dalam tulisan. Jangan sampai menunda-nunda dengan berbagai alasan yang justru membiarkannya hilang. Tidak ada alasan tempat yang tidak bisa digunakan untuk menulis. Di terminal, pasar, di tempat antrian semua bisa digunakan. Apa lagi di dunia moderen seperti sekarang yang semuanya serba disediakan. Tidak seperti zaman dahulu yang menulis hanya dalam buku. Sekarang ada laptop, note book, hp yang sangat menunjang untuk selalu berkarya di mana saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar