Selasa, 12 Februari 2013

KRITIS ATAU KRISIS




Pemuda merupakan sesuatu yang layak diperhitungkan. Jika dahulu Soekarno membutuhkan sepuluh pemuda untuk merubah dunia, maka di era sekarang dengan embel-embel moderennya seharusnya hanya membutuhkan segelintir saja dari sepuluh pemuda. Terlepas dari pemuda yang bagaimana dan seperti apa, yang jelas fenomena kepemudaan memang harus diperhatikan. Karena mereka-mereka lah yang menentukan jalan selanjutnya, menggantikan yang tua dalam sebuah perjalanan.
Kalian adalah pemuda zaman sekarang dan pemimpin di masa depan "Antum syubbanu al-yaumwarijalu al-ghadi", kata Al-Ghalayain dalam Idzatnya. Para pemuda sebagai aset Negara dan masa depan bangsa ini memang tidak bisa terelakkan. Namun, bagaimana apresiasi mereka terhadap hal ini?Sudah siapkah mereka?Atau siapakah mereka sebenarnya?. Semuanya sering terlupakan dan disia-siakan. Tidak ada lagi kesempatan, kecuali terbuang dalam sebuah permainan.
Mahasiswa banyak menorehkan kiprahnya dalam sejarah, baik sebagai control dan pendamping pemerintah atau sebagai agen perubahan. Banyak label disematkan, mulai dari agen of change, agen of control dan lain-lain pada mereka. Namun semuanya seakan menjadi beban dan terbengkalai dalam sebuah perjalanan. Banyak penurunan dan keterpurukan baik dalam hal semangat, intlektual dan idealisme mahasiswa seiring perkembangan zaman. Mereka mulai terkontaminasi dunia luar.
Mahasiswa yang dielu-elukan sebagai sosok kritis malah mengalami krisis dan perlu dikritisi, walau tidak semuanya tetapi kebanyakan begitu. Sosok kutu buku mulai berkurang, dan mereka mulai muak dengan kajian-kajian. Hal ini dapat dilihat dari berbagai agenda yang minim peminatnya, organisasi-organisasi idealis kemahasiswaan yang sepi anggota. Mereka mulai meninggalkan tradisi lama dan lebih suka hura-hura dan bercanda ria juga cenderung lebih pragmatis.
Tidak sekedar apa yang terpapar di atas, kuliah reguler saja mulai banyak berkurang ditandai dengan banyaknya alpa. Dan ketika ada tugas banyak yang sudah tidak mandiri lagi dalam penunaiannya. Copy paste atau plagiat sudah mejadi kebiasaan. Banyak dari mahasiswa yang menganggap makalah sebagai beban. Namun, apakah yang menjadi problem pokok dalam hal ini?. Akankah hal ini dibiarkan dan terus saja terjadi tanpa ada perubahan?.
 Beberapa hal di atas seharusnya menjadi perhatian utama para guru dan dosen. Tidak sekedar mengukur perkembangan mereka dari ujian-ujian, tugas dan semacamnya sementara di balik itu ada ketidakjujuran. Untuk meminimalisir hal ini, mungkin kita bisa kembali ke peradan dahulu yang tidak lepas dari tulis tangan. Dan sekalipun misalnya apa yang dikerjakan merupakan hasil jiplakan, paling tidak mereka membaca dan menulisnya kembali tidak sekedar print out milik orang lain bahkan tanpa mengetahui apa saja yang ada di dalamnya.
Seseorang untuk menjadi lebih baik kadang kala butuh paksaan. Dan mereka yang memiliki kesadaran selain mengingatkan juga perlu melakukan paksaan. Hanya saja paksaan di sini tidak dalam bentuk kekerasan seperti ancaman-ancaman yang mengarah pada tindak kriminal. Kita bisa bekerja sama dengan dosen untuk merealisasikan hal ini. Misalnya meminta dosen merubah bentuk-bentuk penugasan dan memberikan embel-embel wajib dalam berbagai kegiatan dan kajian. Sehingga tidak boleh tidak mereka akan menghadirinya. Hal ini merupakan langkah awal dan kalaupun mereka yang hadir hanya duduk manis dan tidak aktif, paling tidak mereka sudah bisa berkumpul yang lama-kelamaan juga akan mengalami perubahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar