Pemuda merupakan sesuatu yang layak diperhitungkan. Jika dahulu Soekarno
membutuhkan sepuluh pemuda untuk merubah dunia, maka di era sekarang dengan
embel-embel moderennya seharusnya hanya membutuhkan segelintir saja dari
sepuluh pemuda. Terlepas dari pemuda yang bagaimana dan seperti apa, yang jelas
fenomena kepemudaan memang harus diperhatikan. Karena mereka-mereka lah yang
menentukan jalan selanjutnya, menggantikan yang tua dalam sebuah perjalanan.
Kalian adalah pemuda zaman sekarang dan pemimpin di masa depan "Antum
syubbanu al-yaumwarijalu al-ghadi", kata Al-Ghalayain dalam Idzatnya.
Para pemuda sebagai aset Negara dan masa depan bangsa ini memang tidak bisa
terelakkan. Namun, bagaimana apresiasi mereka terhadap hal ini?Sudah siapkah
mereka?Atau siapakah mereka sebenarnya?. Semuanya sering terlupakan dan disia-siakan.
Tidak ada lagi kesempatan, kecuali terbuang dalam sebuah permainan.
Mahasiswa banyak menorehkan kiprahnya dalam sejarah, baik sebagai
control dan pendamping pemerintah atau sebagai agen perubahan. Banyak label
disematkan, mulai dari agen of change, agen of control dan lain-lain
pada mereka. Namun semuanya seakan menjadi beban dan terbengkalai dalam sebuah perjalanan.
Banyak penurunan dan keterpurukan baik dalam hal semangat, intlektual dan
idealisme mahasiswa seiring perkembangan zaman. Mereka mulai terkontaminasi
dunia luar.
Mahasiswa yang dielu-elukan sebagai sosok kritis malah mengalami krisis
dan perlu dikritisi, walau tidak semuanya tetapi kebanyakan begitu. Sosok kutu
buku mulai berkurang, dan mereka mulai muak dengan kajian-kajian. Hal ini dapat
dilihat dari berbagai agenda yang minim peminatnya, organisasi-organisasi
idealis kemahasiswaan yang sepi anggota. Mereka mulai meninggalkan tradisi lama
dan lebih suka hura-hura dan bercanda ria juga cenderung lebih pragmatis.
Tidak sekedar apa yang terpapar di atas, kuliah reguler saja mulai
banyak berkurang ditandai dengan banyaknya alpa. Dan ketika ada tugas banyak
yang sudah tidak mandiri lagi dalam penunaiannya. Copy paste atau plagiat sudah
mejadi kebiasaan. Banyak dari mahasiswa yang menganggap makalah sebagai beban.
Namun, apakah yang menjadi problem pokok dalam hal ini?. Akankah hal ini dibiarkan
dan terus saja terjadi tanpa ada perubahan?.
Beberapa hal di atas seharusnya
menjadi perhatian utama para guru dan dosen. Tidak sekedar mengukur
perkembangan mereka dari ujian-ujian, tugas dan semacamnya sementara di balik
itu ada ketidakjujuran. Untuk meminimalisir hal ini, mungkin kita bisa kembali
ke peradan dahulu yang tidak lepas dari tulis tangan. Dan sekalipun misalnya
apa yang dikerjakan merupakan hasil jiplakan, paling tidak mereka membaca dan
menulisnya kembali tidak sekedar print out milik orang lain bahkan tanpa
mengetahui apa saja yang ada di dalamnya.
Seseorang untuk menjadi lebih baik kadang kala butuh paksaan. Dan mereka
yang memiliki kesadaran selain mengingatkan juga perlu melakukan paksaan. Hanya
saja paksaan di sini tidak dalam bentuk kekerasan seperti ancaman-ancaman yang
mengarah pada tindak kriminal. Kita bisa bekerja sama dengan dosen untuk
merealisasikan hal ini. Misalnya meminta dosen merubah bentuk-bentuk penugasan
dan memberikan embel-embel wajib dalam berbagai kegiatan dan kajian. Sehingga
tidak boleh tidak mereka akan menghadirinya. Hal ini merupakan langkah awal dan
kalaupun mereka yang hadir hanya duduk manis dan tidak aktif, paling tidak
mereka sudah bisa berkumpul yang lama-kelamaan juga akan mengalami perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar