A.
Perseteruan Puisi dengan Filsafat
Menurut orang-orang Yunani penting, filsafat muncul dari
mitos, agama dan puisi. Dunia Yunani kuno dibangun di atas mitos dan
kesusastraan berkembang pada waktu itu. Penyair sekaligus penghibur, artis,
perajin, guru dan pendidik bangsa.[1] E.
Bethe dalam bukunya Mithus Sage marchen mengatakan bahwa mitos adalah filsafat primitif,
bentuk paling primitif pengungkapan gagasan dalam menerangkan kehidupan. Mungkin
banyak orang bertanya, dimanakah letak kontrofersi puisi dan filsafat itu
sendiri?.
Sejarah Yunani kuno dalam filsafat dimulai dari perang Troya
sekitar 1200 S.M. Zaman ini merupakan inspirasi mitos-mitos Yunani yang
selanjutnya berkembang dalam penciptaan epos-epos Homer dengan bentuknya yang
puitis.[2]
Hal inilah yang pada masa-masa setelahnya menimbulkan apa yang disebut dengan
pertentangan puisi dan filsafat, bukan puisi secara keseluruhan tetapi lebih
pada epos-epos puitis Homer dan mite-mite lain yang diungkap dengan cara yang
puitis.
Homer sendiri seakan injil bagi Yunani kuno. Sebagai karya
Homerus yang berawal dari mitos dengan coraknya yang puitis, Homer bebas dari
kritik. Para pujangga waktu itu hanya bisa menulis karya sastra tersebut tanpa
mempertanyakan mitos secara eksplisit. Baru para filsuf yang menjelaskannya
secara harfiah atau lebih objektif dengan mempertanyakan kebenarannya.
Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa bitologi atau
mitos sudah ada sejak masa sebelum filsafat. Melalui mite-mite ini manusia
mencari keterangan tentang asal usul alam dan mencoba menerangkan
kejadian-kejadian alam juga masalah hidup manusia. Hanya saja jawaban yang
diberikan kurang memuaskan, tidak bias dipertanggung jawabkan atau tidak logis.
Mitos lebih mengedepankan kekuatan gaib.[3]
Bagi para filsuf awal, pertanyaan filososis timbul dari sikap
artistik, bukan sikap ilmiah. Hal ini mungkin merupakan wujud dari kritik
mereka terhadap Homerus yang puitis. Ketika membaca karya-karya filsuf awal
harus secara metaforis dalam memahaminya, bukan dipahami secara harfiah
sebagaimana karya filsuf sekarang.[4]
Memang tidak bisa disangkal, pemikiran filsuf awal
dipengaruhi mitos-mitos yang manjadi pujaan sebelumnya. Memang tidak semua
mitos ditolak atau paling tidak ketika jauh dari kebenaran, maka paling tidak
ungkapan-ungkapan puitisnya saja yang diambil dengan berbagai keterangan lain.
Dari berbagai wacana di atas sebenarnya dapat disimpulkan
kalau pertentangan puisi dan filsafat merupakan pertentangan mitos dan logos
sebagai dasar filsafat. Bukan dari segi artistik atau kepuitisannya, tetapi
lebih pada wacana objektivitas. Jika puisi itu utopis imajinatif maka filsafat
bersifat logis, tidak sekedar sebuah ungkapan tanpa penelusuran walaupun dalam
ungkapan-ungkapannya kadang juga puitis. Mitos-mitos yang tersusun dalam karya
puitis Homer dan lainnyalah yang menimbulkan kontroversi dalam menerangkan
dunia dan kejadian di dalamnya.
- Puisi Teoloogis
Pada Yunani kuno, antara mitos,
puisi dan krtuhanan menjadi satu. Mitos yang puitis dan berbau teologis tentang
para dewa. Dan mitos-mitos ini termaktub dalam Homer atau Hesiod. Stephen
Palmquis menulis dalam buku The Tree of Philoshopy bahwa pelaku dalam
mitos biasanya adalah para dewa, sesuatu
yang adikodrati, atau pahlawan dengan kekuatan adikodrati.[5]
Dalam Homer dan Hesiod diceritakan
tentang kehidupan para dewa, soal perang, perlombaan dan tindakan-tindakan para
dewa yang telah membentuk tindakan manusia (menurut mereka bangsa Yunani).
Kesedihan, kebahagiaan, kejahatan, kebaikan dan terjadinya alam juga
diceritakan dalam menerangkan sisi-sisi kehidupan.
Homer dan Hesiod menceritakan cerita
tentang perilaku manusia dilihat dengan latar belakang dunia di mana
ketidakadilan tidak akan pergi tanpa hukuman, dimana perbuatan manusia memiliki
konsekuensi yang tak terhindarkan. Motif ini jelas dari garis pembukaan Iliad.[6]
Dalam Theogony Hesiod yang obyek
utama keprihatinan dituliskan tentang pe jawaban pertanyaan-pertanyaan
teologis Siapakah para dewa? Apa hubungan
antara mereka; bagaimana dunia dan manusia terbentuk?. Putri dari Zeus dan
Memori memberikan jawaban. “Dan mereka,
mengucapkan suara abadi mereka, merayakan dalam lagu pertama dari semua Pendeta
ras para dewa dari awal, mereka yang Bumi dan lebar surga memperanakkan, dan
para dewa bermunculan ini, pemberi hal yang baik”. Kemudian, berikutnya dewi
bernyanyi “Zeus - ayah dari dewa dan manusia, ketika mereka mulai dan berakhir
ketegangan mereka - betapa dia adalah yang paling baik di antara para dewa dan
tertinggi berkuasa. Dan lagi, mereka mengucapkan ras manusia dan raksasa yang
kuat, dan menggembirakan jantung Zeus”.(Theogony, 43-51).[7]
Puisi ini memiliki beban tiga kali
lipat. Pertama, hal datang menjadi ada dari dunia, kosmogoni yang dibicarakan
dalam hal lomba pertama para dewa. Kedua, urutan generasi para dewa diberikan,
Theogony yang tepat. Ketiga, cerita bagaimana Zeus mendapatkan supremasi atas
dewa-dewa lainnya.
Untuk memperkenalkan sedikit puisi Homerus,
di sini kami tulis sedikit dari baris-baris pertama syair Ilias yang
disalin dalam prosa Inggris sebagaimana dari bahasa Yunani (latin) Berikiut;
“The
wrath of Achilles is my theme, that fatal wrath which, in fulfilment of the
will of Zeus, brought the Achaeans so much suffering and sent, the gallant
souls of my noblemen to Hades, leaving their bodies as carrion for the dogs and
passing birds. Let us begin, goddes of song, with the angry parting that took
place between Agamemmon King of Men and the great Achilles son of Peleus”.
- Agama Primitif Yunani
Dunia Yunani kuno sebelum filsafat
lahir penuh dengan sihir atau kekuatan-kekuatan
gaib (magic). Mereka cenderung berfikir
dapat mengendalikan peristiwa dengan mantra-mantra (doa). Saat itu, dunia penuh
dengan roh baik dan jahat. Roh-roh ini berkomunikasi dengan manusia dengan
bahasa yang hanya dimengerti oleh orang-orang khusus yang dikenal dengan dukun.
Dukun merupakan titik hubung antara yang gaib (dunia roh) dengan manusia.[8]
Sihir kuno berfungsi menurut dua
prinsip. Pertamam mimesis, yaitu gagasan bahwa seseorang dapat memiliki
kekuatan seseorang atau sesuatu dengan menirunya. Kedua, contagion,
adalah gagasan bahwa kekuatan yang dimiliki seseorang atau sesuatu dapat
dipindahkan melalui kontak dengannya.[9]
Bangsa Yunani primitif percaya bahwa mereka dapat menggunakan kekuatan alam
dengan membuat representasi imitatif berupa sketsa dan patung.
Paganisme orisinal di atas dengan
spiritual mereka, baru hilang setelah invasi Eropa Selatan oleh pejuang Yunani
dari Timur. Mereka membawa budaya dan agama patriarkal serta menempatkan Dewa
Zeus di pucuk hierarki keramat pagan.[10]
Kebangkitan agama dari abad keenam
SM-terkait dengan kultus misteri. Misteri kultus-lokal bentuk dewa melambangkan
individualisme. kultus Dionysian bergabung dengan gaib, doktrin jiwa abadi dan
transmigrasi. Mungkin miring terhadap filsafat terutama metafisika dan terutama
kepada filsafat agama berorientasi Pythagorean, dari Parmenides dan Heraklitus.
Dari beberapa hal di atas, dapat diketahui
bagaimana orang-orang Yunani bertahap menggantikan tentang keilahian Cthonic
dengan yang dari Olimpia, dari takhayul primitif dengan dewa papan atas
antropomorfik. Dengan ketidak sempurnaan mereka, para dewa Olimpia merupakan
bagian penting orang-orang Yunani.
Selanjutnya, lapisan dewa sistematis
dalam Theogony Hesiod, misalnya, mewakili invasi sukses Hellas, Zeus dan yang
lainnya. Olimpiade mewakili kekuasaan dari Hellenes, dewa yang kemudian
dicangkokkan ke obyek-obyek pemujaan takhayul dari masyarakat yang ditaklukkan.
Hal ini menjelaskan dewa ditulis dengan tanda penghubung yang berlimpah dalam
mitologi Yunani, dimana dewa lokal diidentifikasi dengan Zeus atau lainnya dari
Olympians. Ini pra-Keunggulan Olympian yang terlihat di Homer. Sementara di
Hesiod langkah lain diambil, yang membawa kita ke ambang apa yang kemudian
disebut filsafat. Gerakan ini dari Cthonic atau
dewa dunia bawah - benda takhayul dan keengganan dengan Olimpiade dewa. Dalam Homer semua ini adalah latar belakang, bagian dari interpretasi dari apa pada dasarnya dunia manusia, tahap tindakan yang konsekuensinya harus diterima. Dalam Theogony itu, para dewa sendiri adalah obyek dari kepedulian dan mereka dipanggil untuk menjelaskan, bukan hanya bidang tindakan, tapi juga bentuk dari dunia di sekitar kita. Dalam bagian kosmogoni, dunia alam dijelaskan, tetapi para dewa dan apa yang menjadi dewa adalah prinsip-prinsip penjelasan.
dewa dunia bawah - benda takhayul dan keengganan dengan Olimpiade dewa. Dalam Homer semua ini adalah latar belakang, bagian dari interpretasi dari apa pada dasarnya dunia manusia, tahap tindakan yang konsekuensinya harus diterima. Dalam Theogony itu, para dewa sendiri adalah obyek dari kepedulian dan mereka dipanggil untuk menjelaskan, bukan hanya bidang tindakan, tapi juga bentuk dari dunia di sekitar kita. Dalam bagian kosmogoni, dunia alam dijelaskan, tetapi para dewa dan apa yang menjadi dewa adalah prinsip-prinsip penjelasan.
[1] Hermanto
setyo, Santoso Triwibowo Budi. 2001. Sejarah
Pemikiran Politik Yunani dan Romawi. PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta.
Hal-25.
[2] Palmquis
Stephen. 2000. The Tree of Philosophy. Philopsychy Press; Hongkong. Yang
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Muhammad Shodiq
[3] Dr. K.
Bertens. 1975. Sejarah Filsafat Yunani dari Thales ke Aristoteles.
Kanisius; Jogjakarta, Hal-16.
[4] Neil
Turnbull. 2005. Bengkel Ilmu Filsafat. Erlangga; Jakarta. Hal-40
[5] Shodiq
Muhammad. 2002. Pohon Filsafat (terjemah The Tree of Philosophy).
Pustaka Pelajar; Yogyakarta. Hal- 24-25.
[6] McInerny Ralph. ____. A History of
Western Philosophy.
[7] Ibid.
[8] Neil
Turnbull. 2005. Bengkel Ilmu Filsafat. Erlangga; Jakarta.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
Hal-33
Tidak ada komentar:
Posting Komentar