“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un… telah meninggal dunia Abdul Fatah bin Arqam dini hari tadi jam
02.15 WIB. Insyaallah jenazah akan dishalatkan nanti siang jam 14.00 WIB”. Tiga
kali orang di balik pengeras suara itu mengulang pemberitahuannya. Hal ini
sudah menjadi hal yang biasa dilakukan di kampung kami setiap ada orang yang
meninggal dunia. Setelah itu semua orang datang berduyun-duyun untuk berbela
sungkawa. Sebagian dari mereka dari tetangga dan keluarga akan mempersiapkan
keperluan jenazah mulai dari menggali kubur, mencari keranda dan hal-hal lain
yang sekiranya dibutuhkan.
Mereka yang datang tanpa perlu dikordinir akan mempersiapkan
perlengkapan. Bertanya apa yang masih belum dipersiapkan, apa yang dibutuhkan.
Tanpa perlu banyak arahan ke mana mereka harus berjalan tanpa mengharap
imbalan. Semua sudah menajadi kebiasaan dan pada waktunya, mereka juga akan
merasakan. Ketika mendapat kesusahan atau musibah dadakan, maka yang pertama
datang adalah tetangga yang berdekatan. Begitulah suasana pedesaan yang masih
kental tradisi kekeluargaannya.
Membawa beras 3 kg sudah menjadi hal yang biasa dalam bertakziah.
Laki-laki perempuan datang berpasangan, mengirim doa dan menenangkan hati yang
berduka. Mereka dijamu dan pulang dengan menenteng berkat (nasi lengkap
dengan lauk pauknya yang biasa dibungkus kresek dan diberikan kepada pelayat).
Sampai tujuh hari dari kematian, rumah kami tidak akan pernah sepi
dari keramaian. Pada hari-hari itu, rasa kehilangan tak pernah datang, terhapus
keramaian dengan berbagai kesibukan. Tidak hanya di waktu siang, selama tujuh
hari para tetangga tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Bernalam di
bawah terop yang biasa disediakan sambil jaga-jaga mungkin ada tamu tidak
diundang di tengah malam.
Berbagai hal ini perlu dipertahankan dalam sebuah masyarakat yang
satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Hanya saja ada beberapa hal yang
kadang terlupakan dan perlu diperbaiki. Momen-momen ini tak jarang digunakan
pemuda sebagai ajang kebahagiaan dengan berbagai permainan. Duduk di atas
kursi, bertemankan kopi dan ngerumpi masih dapat dimaklumi. Namun ketika hal
itu dibarengi dengan permainan kartu yang kadang bahkan mengganggu, maka hal
ini menjadi tidak layak mengingat di sana sebagai rumah duka. Apa lagi sampai
melibatkan taruhan dan hal-hal yang merugikan. Misalnya berdikari, yang
kalah jongkok sendiri meskipun sampai pagi.
Permainan memang bukan sesuatu yang terlarang. Tetapi tidak boleh
kelewatan atau disandingkan dengan hal-hal yang merugikan. Dan alangkah baiknya
jika hal ini diganti dengan sesuatu yang lebih berarti. Mengaji atau mengirim
doa bagi yang mati, diskusi dan intropeksi diri. Dengan memasukkan hal-hal baik
ketika psikologi berhadapan dengan bukti-bukti, biasanya akan lebih mudah melekat
dan menyatu menjadi sebuah pribadi.
Paling tidak dari sini kita bisa menata diri sendiri dan mengambil
pelajaran dari sebuah kematian. Manusia yang lebih banyak di bawah kuasa lupa
dan alpa akan lebih banyak membutuhkan peringatan selain pelajaran. Sekian
banyak pengetahuan sering kali menjadi hampa, tanpa makna dan hanya bisa
bermain di wilayah kata-kata. Kecuali ketika berhadapan dengan suatu hal yang
di bawah kemampuan dan membawanya untuk kembali kepada Tuhan.
Pengetahuan memang bukan jaminan akan kebaikan seseorang. Kecuali
dalam pandangan Socrates dengan pendapatnya bahwa mereka yang tahu akan
kebaikan pasti akan mewujudkannya. Sebagaimana orang yang lapar dan tahu bahwa
dia butuh makan agar kenyang. Dapat dipastikan mereka akan makan, begitu pula
mereka yang tahu apa itu kebaikan dan bagaimana mewujudkan tidak sekedar dalam
impian.
Apa yang ada dalam benak Sokrates tidaklah salah. Namun tidak
sepenuhnya benar setelah melihat berbagai kenyataan. Boleh saja dia memasukkan
mereka yang tidak sejalan dengan pengetahuannya sebagai orang gila atau orang
yang pada hakekatnya tidak mendapat pengetahuan kecuali mengenalnya kulit
luarnya saja. Yang jelas efek dari sebuah kebaikan tidak seperti makan yang
langsung dirasakan dan tanpa pertimbangan lain juga kemungkinan dari subjek
lain.
Sebuah kebaikan akan menyatu dan menjadi kepribadian seseorang
hanya dengan banyak latihan dan membiasakan. Berawal dari hal-hal yang kecil
bahkan terkadang berawal dari sesuatu yang tidak baik. Pada tahap awal poin
pertama yang ditekankan adalah terlaksananya walau hanya dengan setengah hati.
Pada hakekatnya semua manusia ingin menjadi baik dan selalu berbuat
baik. Sifat dasarnya sebgai khalifah memang begitu. Hanya saja besarnya
kealpaan dan sifat lupa terlalu besar untuk dilawan dan sering menyeretnya ke
tiang gantungan. Tanpa sadar, tapi tidak bisa dibiarkan. Dan satu hal yang
perlu disadari bahwa dirinya sendiri lah musuh terkuat yang harus dilawan. Dari
sana semua dimulai atau diakhiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar