Minggu, 03 Maret 2013

Awal sebuah Kebaikan




“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un… telah meninggal dunia Abdul Fatah bin Arqam dini hari tadi jam 02.15 WIB. Insyaallah jenazah akan dishalatkan nanti siang jam 14.00 WIB”. Tiga kali orang di balik pengeras suara itu mengulang pemberitahuannya. Hal ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan di kampung kami setiap ada orang yang meninggal dunia. Setelah itu semua orang datang berduyun-duyun untuk berbela sungkawa. Sebagian dari mereka dari tetangga dan keluarga akan mempersiapkan keperluan jenazah mulai dari menggali kubur, mencari keranda dan hal-hal lain yang sekiranya dibutuhkan.
Mereka yang datang tanpa perlu dikordinir akan mempersiapkan perlengkapan. Bertanya apa yang masih belum dipersiapkan, apa yang dibutuhkan. Tanpa perlu banyak arahan ke mana mereka harus berjalan tanpa mengharap imbalan. Semua sudah menajadi kebiasaan dan pada waktunya, mereka juga akan merasakan. Ketika mendapat kesusahan atau musibah dadakan, maka yang pertama datang adalah tetangga yang berdekatan. Begitulah suasana pedesaan yang masih kental tradisi kekeluargaannya.
Membawa beras 3 kg sudah menjadi hal yang biasa dalam bertakziah. Laki-laki perempuan datang berpasangan, mengirim doa dan menenangkan hati yang berduka. Mereka dijamu dan pulang dengan menenteng berkat (nasi lengkap dengan lauk pauknya yang biasa dibungkus kresek dan diberikan kepada pelayat).
Sampai tujuh hari dari kematian, rumah kami tidak akan pernah sepi dari keramaian. Pada hari-hari itu, rasa kehilangan tak pernah datang, terhapus keramaian dengan berbagai kesibukan. Tidak hanya di waktu siang, selama tujuh hari para tetangga tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Bernalam di bawah terop yang biasa disediakan sambil jaga-jaga mungkin ada tamu tidak diundang di tengah malam.
Berbagai hal ini perlu dipertahankan dalam sebuah masyarakat yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Hanya saja ada beberapa hal yang kadang terlupakan dan perlu diperbaiki. Momen-momen ini tak jarang digunakan pemuda sebagai ajang kebahagiaan dengan berbagai permainan. Duduk di atas kursi, bertemankan kopi dan ngerumpi masih dapat dimaklumi. Namun ketika hal itu dibarengi dengan permainan kartu yang kadang bahkan mengganggu, maka hal ini menjadi tidak layak mengingat di sana sebagai rumah duka. Apa lagi sampai melibatkan taruhan dan hal-hal yang merugikan. Misalnya berdikari, yang kalah jongkok sendiri meskipun sampai pagi.
Permainan memang bukan sesuatu yang terlarang. Tetapi tidak boleh kelewatan atau disandingkan dengan hal-hal yang merugikan. Dan alangkah baiknya jika hal ini diganti dengan sesuatu yang lebih berarti. Mengaji atau mengirim doa bagi yang mati, diskusi dan intropeksi diri. Dengan memasukkan hal-hal baik ketika psikologi berhadapan dengan bukti-bukti, biasanya akan lebih mudah melekat dan menyatu menjadi sebuah pribadi.
Paling tidak dari sini kita bisa menata diri sendiri dan mengambil pelajaran dari sebuah kematian. Manusia yang lebih banyak di bawah kuasa lupa dan alpa akan lebih banyak membutuhkan peringatan selain pelajaran. Sekian banyak pengetahuan sering kali menjadi hampa, tanpa makna dan hanya bisa bermain di wilayah kata-kata. Kecuali ketika berhadapan dengan suatu hal yang di bawah kemampuan dan membawanya untuk kembali kepada Tuhan.
Pengetahuan memang bukan jaminan akan kebaikan seseorang. Kecuali dalam pandangan Socrates dengan pendapatnya bahwa mereka yang tahu akan kebaikan pasti akan mewujudkannya. Sebagaimana orang yang lapar dan tahu bahwa dia butuh makan agar kenyang. Dapat dipastikan mereka akan makan, begitu pula mereka yang tahu apa itu kebaikan dan bagaimana mewujudkan tidak sekedar dalam impian.
Apa yang ada dalam benak Sokrates tidaklah salah. Namun tidak sepenuhnya benar setelah melihat berbagai kenyataan. Boleh saja dia memasukkan mereka yang tidak sejalan dengan pengetahuannya sebagai orang gila atau orang yang pada hakekatnya tidak mendapat pengetahuan kecuali mengenalnya kulit luarnya saja. Yang jelas efek dari sebuah kebaikan tidak seperti makan yang langsung dirasakan dan tanpa pertimbangan lain juga kemungkinan dari subjek lain.
Sebuah kebaikan akan menyatu dan menjadi kepribadian seseorang hanya dengan banyak latihan dan membiasakan. Berawal dari hal-hal yang kecil bahkan terkadang berawal dari sesuatu yang tidak baik. Pada tahap awal poin pertama yang ditekankan adalah terlaksananya walau hanya dengan setengah hati.
Pada hakekatnya semua manusia ingin menjadi baik dan selalu berbuat baik. Sifat dasarnya sebgai khalifah memang begitu. Hanya saja besarnya kealpaan dan sifat lupa terlalu besar untuk dilawan dan sering menyeretnya ke tiang gantungan. Tanpa sadar, tapi tidak bisa dibiarkan. Dan satu hal yang perlu disadari bahwa dirinya sendiri lah musuh terkuat yang harus dilawan. Dari sana semua dimulai atau diakhiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar