Minggu, 03 Maret 2013

Penunggu Kematian



Terlahir dan
tk kan terlahir kembali.
Dari tangisan seorang bayi,lantas
aq berdiri
mencari dan terus mencari titik
akhir dr hidup ini,sampai
aq tk lagi bisa kembali...
"Mati"
yg masih menjadi misteri...
Karena aq masih tk mampu mengurai,
mengenali dan
menentukan hari pasti.
Kecuali,,,
"aku pasti mati dan
tk kan terlahir kembali".
Maka jangan taxa kembali kecuali
"apa yg telah kau persembahkan pd hidup ini?".
Berlari dan terus berlari, bukan lari...!
Menyingkap tabir Ilahi.
mencari dan terus mencari,bukan cari...!
Sebelum,
misteri ini datang
mengkeksekusi dan
kau tk pernah bisa kembali.

Awal sebuah Kebaikan




“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un… telah meninggal dunia Abdul Fatah bin Arqam dini hari tadi jam 02.15 WIB. Insyaallah jenazah akan dishalatkan nanti siang jam 14.00 WIB”. Tiga kali orang di balik pengeras suara itu mengulang pemberitahuannya. Hal ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan di kampung kami setiap ada orang yang meninggal dunia. Setelah itu semua orang datang berduyun-duyun untuk berbela sungkawa. Sebagian dari mereka dari tetangga dan keluarga akan mempersiapkan keperluan jenazah mulai dari menggali kubur, mencari keranda dan hal-hal lain yang sekiranya dibutuhkan.
Mereka yang datang tanpa perlu dikordinir akan mempersiapkan perlengkapan. Bertanya apa yang masih belum dipersiapkan, apa yang dibutuhkan. Tanpa perlu banyak arahan ke mana mereka harus berjalan tanpa mengharap imbalan. Semua sudah menajadi kebiasaan dan pada waktunya, mereka juga akan merasakan. Ketika mendapat kesusahan atau musibah dadakan, maka yang pertama datang adalah tetangga yang berdekatan. Begitulah suasana pedesaan yang masih kental tradisi kekeluargaannya.
Membawa beras 3 kg sudah menjadi hal yang biasa dalam bertakziah. Laki-laki perempuan datang berpasangan, mengirim doa dan menenangkan hati yang berduka. Mereka dijamu dan pulang dengan menenteng berkat (nasi lengkap dengan lauk pauknya yang biasa dibungkus kresek dan diberikan kepada pelayat).
Sampai tujuh hari dari kematian, rumah kami tidak akan pernah sepi dari keramaian. Pada hari-hari itu, rasa kehilangan tak pernah datang, terhapus keramaian dengan berbagai kesibukan. Tidak hanya di waktu siang, selama tujuh hari para tetangga tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Bernalam di bawah terop yang biasa disediakan sambil jaga-jaga mungkin ada tamu tidak diundang di tengah malam.
Berbagai hal ini perlu dipertahankan dalam sebuah masyarakat yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Hanya saja ada beberapa hal yang kadang terlupakan dan perlu diperbaiki. Momen-momen ini tak jarang digunakan pemuda sebagai ajang kebahagiaan dengan berbagai permainan. Duduk di atas kursi, bertemankan kopi dan ngerumpi masih dapat dimaklumi. Namun ketika hal itu dibarengi dengan permainan kartu yang kadang bahkan mengganggu, maka hal ini menjadi tidak layak mengingat di sana sebagai rumah duka. Apa lagi sampai melibatkan taruhan dan hal-hal yang merugikan. Misalnya berdikari, yang kalah jongkok sendiri meskipun sampai pagi.
Permainan memang bukan sesuatu yang terlarang. Tetapi tidak boleh kelewatan atau disandingkan dengan hal-hal yang merugikan. Dan alangkah baiknya jika hal ini diganti dengan sesuatu yang lebih berarti. Mengaji atau mengirim doa bagi yang mati, diskusi dan intropeksi diri. Dengan memasukkan hal-hal baik ketika psikologi berhadapan dengan bukti-bukti, biasanya akan lebih mudah melekat dan menyatu menjadi sebuah pribadi.
Paling tidak dari sini kita bisa menata diri sendiri dan mengambil pelajaran dari sebuah kematian. Manusia yang lebih banyak di bawah kuasa lupa dan alpa akan lebih banyak membutuhkan peringatan selain pelajaran. Sekian banyak pengetahuan sering kali menjadi hampa, tanpa makna dan hanya bisa bermain di wilayah kata-kata. Kecuali ketika berhadapan dengan suatu hal yang di bawah kemampuan dan membawanya untuk kembali kepada Tuhan.
Pengetahuan memang bukan jaminan akan kebaikan seseorang. Kecuali dalam pandangan Socrates dengan pendapatnya bahwa mereka yang tahu akan kebaikan pasti akan mewujudkannya. Sebagaimana orang yang lapar dan tahu bahwa dia butuh makan agar kenyang. Dapat dipastikan mereka akan makan, begitu pula mereka yang tahu apa itu kebaikan dan bagaimana mewujudkan tidak sekedar dalam impian.
Apa yang ada dalam benak Sokrates tidaklah salah. Namun tidak sepenuhnya benar setelah melihat berbagai kenyataan. Boleh saja dia memasukkan mereka yang tidak sejalan dengan pengetahuannya sebagai orang gila atau orang yang pada hakekatnya tidak mendapat pengetahuan kecuali mengenalnya kulit luarnya saja. Yang jelas efek dari sebuah kebaikan tidak seperti makan yang langsung dirasakan dan tanpa pertimbangan lain juga kemungkinan dari subjek lain.
Sebuah kebaikan akan menyatu dan menjadi kepribadian seseorang hanya dengan banyak latihan dan membiasakan. Berawal dari hal-hal yang kecil bahkan terkadang berawal dari sesuatu yang tidak baik. Pada tahap awal poin pertama yang ditekankan adalah terlaksananya walau hanya dengan setengah hati.
Pada hakekatnya semua manusia ingin menjadi baik dan selalu berbuat baik. Sifat dasarnya sebgai khalifah memang begitu. Hanya saja besarnya kealpaan dan sifat lupa terlalu besar untuk dilawan dan sering menyeretnya ke tiang gantungan. Tanpa sadar, tapi tidak bisa dibiarkan. Dan satu hal yang perlu disadari bahwa dirinya sendiri lah musuh terkuat yang harus dilawan. Dari sana semua dimulai atau diakhiri.

Senin, 18 Februari 2013

Kasih


Kasih,,,
Biarkan aku tenang d
ranjang kesepian, bertemankan
sunyi.
Memandangmu di
setiap tempat yang
dapat  aq tatap,
d setiap ruang yg dapat aku  pandang.

Entah kenapa,,,,
Semuax tersihir menjadi
KAMU

Namun,
hatiq tetap sepi dalam
imaji tentangmu.
Sementara, , ,
KAU pergi dan
Tak kan pernah kembali.

Pacinan  15-02-12

Mimpiku Tarajji





Bukan tamannya yang kosong tanpa arti,
Sebelum Tuhan menutup pintu mimpi….
Aku tulis namaku di pintu Al-Ahqaf,
Di dinding-dinding Al-Azhar dan
Pintu Kakbah.
Aku bangun rumahku di negeri Musa,
Negeri para Nabi.
Di sanalah Tuhan menuliskan takdirku sebelum
Dia memanggilku.
Di sanalah Tuhan menungguku dengan
Titah tanpa suara yang akan
Aku jemput dengan cita.
Bukan harta dan tahta, tapi
Dengan semangat yang membara.
Dengan cinta dan cita aku percaya.
Dengan usaha dan pasrah aku melangkah.
Membuktikan misteri takdkir sebagai
Hamba yang diberi kuasa dan pasrah.
Dan,
Kalau-pun aku mati
Paling tidak aku telah berani bermimpi dan
Menuliskan inspirasi Ilahi
Malam ini.
Saat Tuhan turun ke langit bumi dengan kasih.

Penjarinngansari, 12 ramadhan 1433 (01 Agustus 2012)

Mari Menulis





Menulis, bukanlah kata-kata yang asing lagi didengar. Terlepas dari menulis yang bagaimana, yang jelas tulis menulis tidak bisa terpisahkan dari sebuah perjalanan. Namun perlu digaris bawahi bahwa kata menulis bagi anak TK, SD sampai mahasiswa tidaklah sama. Pada jenjang awal, menulis lebih pada melukis berbagai karakter di atas sebuah kertassebgai tujuab utama tanpa memperhatikan makna. Hal ini tidak bisa disamakan dengan menulis bagi mereka yang pada tahap lanjutan. Kecuali hal ini sebagai sebuah pertanda dari tidak adanya perubahan dan peningkatan.
Berbicara tentang tulis menulis ini, banyak hal persuasive yang memonpa ketertarikan tapi jarang diperhatikan. Entah itu kata-kata bijak, pepatah atau petuah-petuah yang berasal dari mereka yang melegenda bahkan dari Tuhan lewat agama. Kalau pepatah Arab mengatakan man hafidza farra wa man kataba qarra (barang saiapa menyimpan sesuatu (ide) dalam bentuk hafalan akan menghilang, sedangkan mereka yang menyimpan sesuatu dalam bentuk sebuah tulisan akan tetap dalam keabadian). Sebuah tulisan selalu menjadi wakil manusia dalam sebuah kehidupan sementara mereka dalam kematian. Dan mereka yang tidak pernah menulis sebenarnya telah menjemput kematiannya terlebih dahulu sebelum waktu yang ditentukan.
Untuk menjadi seorang penulis sebenarnya tidaklah sulit. Tulis menulis bukanlah sesuatu yang dibatasi oleh bakat. Seseorang hanya membutuhkan keinginan kuat yang ditopang oleh sebuah impian agar lebih progresif. Berawal dari sebuah oret-oretan yang kadang menggelikan sampai pada sebuah tulisan yang dipertimbangkan. Semua ini membutuhkan kesabaran, tidak seperti sulap yang dapat merubah keadaan dalam sekali pandang. Tuhan saja dalam penciptaan mengajarkan bahwa prose situ merupakan keniscayaan.
Berbagai kegagalan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Padanya kita belajar untuk lebih tanggap dan pintar, menjadikannya sebagai cemeti yang membuat kita lari lebih kencang dalam menggapai sebuah harapan. Bukan lantas tertunduk lesu dan membiarkan kesempatan terus berlalu. Kalau kita mengerti tentang waktu, tak mungkin kita biarkan semuanya berlalu tanpa mengerjakan sesuatu yang lebih berarti sementara dia tidak datang dua kali.
Mencoba dan terus mencoba tanpa lelah apa lagi sampai menyerah. Mencari celah di mana ada salah agar tulisan kita semakin sempurna. Hal ini menjadi sesuatu yang penting. Dan hanya mereka yang gila yang setia pada salah dengan lelah dan menyerah. Tidak berani berpacu dengan waktu dan membiarkan dirinya terbunuh.
Dalam sebuah pembelajaran, rasa malu terkadang sering mengganggu. Memaksa kita untuk terus membeku dan bangga pada kebodohan yang terus membelenggu. Pada akhirnya kita terus mengeluh. Mengharapkan sesuatu datang lebih dahulu tanpa dijemput dengan waktu. Hal ini menjadi hal aneh yang sering dianggap remeh. Mereka yang malu sebenarnya tidak tahu kalau sikapnya akan membuat dirinya jauh lebih merasa malu pada suatu waktu. Dan terkadang rasa malu sebenarnya merupakan implementasi dari ketidakjujuran atau kemalasan yang tersimpan. Semua ini perlu dilawan jika kita masih yakin kalau kehidupan masih panjang, bahkan setelah kematian.
Untuk menulis, kita tidak perlu terikat dengan waktu. Kapan pun dan di mana pun, kita bisa mengerjakan hal itu. Setiap ide itu datang, kita harus langsung salurkan dalam tulisan. Jangan sampai menunda-nunda dengan berbagai alasan yang justru membiarkannya hilang. Tidak ada alasan tempat yang tidak bisa digunakan untuk menulis. Di terminal, pasar, di tempat antrian semua bisa digunakan. Apa lagi di dunia moderen seperti sekarang yang semuanya serba disediakan. Tidak seperti zaman dahulu yang menulis hanya dalam buku. Sekarang ada laptop, note book, hp yang sangat menunjang untuk selalu berkarya di mana saja.