Senin, 18 Februari 2013

Kasih


Kasih,,,
Biarkan aku tenang d
ranjang kesepian, bertemankan
sunyi.
Memandangmu di
setiap tempat yang
dapat  aq tatap,
d setiap ruang yg dapat aku  pandang.

Entah kenapa,,,,
Semuax tersihir menjadi
KAMU

Namun,
hatiq tetap sepi dalam
imaji tentangmu.
Sementara, , ,
KAU pergi dan
Tak kan pernah kembali.

Pacinan  15-02-12

Mimpiku Tarajji





Bukan tamannya yang kosong tanpa arti,
Sebelum Tuhan menutup pintu mimpi….
Aku tulis namaku di pintu Al-Ahqaf,
Di dinding-dinding Al-Azhar dan
Pintu Kakbah.
Aku bangun rumahku di negeri Musa,
Negeri para Nabi.
Di sanalah Tuhan menuliskan takdirku sebelum
Dia memanggilku.
Di sanalah Tuhan menungguku dengan
Titah tanpa suara yang akan
Aku jemput dengan cita.
Bukan harta dan tahta, tapi
Dengan semangat yang membara.
Dengan cinta dan cita aku percaya.
Dengan usaha dan pasrah aku melangkah.
Membuktikan misteri takdkir sebagai
Hamba yang diberi kuasa dan pasrah.
Dan,
Kalau-pun aku mati
Paling tidak aku telah berani bermimpi dan
Menuliskan inspirasi Ilahi
Malam ini.
Saat Tuhan turun ke langit bumi dengan kasih.

Penjarinngansari, 12 ramadhan 1433 (01 Agustus 2012)

Mari Menulis





Menulis, bukanlah kata-kata yang asing lagi didengar. Terlepas dari menulis yang bagaimana, yang jelas tulis menulis tidak bisa terpisahkan dari sebuah perjalanan. Namun perlu digaris bawahi bahwa kata menulis bagi anak TK, SD sampai mahasiswa tidaklah sama. Pada jenjang awal, menulis lebih pada melukis berbagai karakter di atas sebuah kertassebgai tujuab utama tanpa memperhatikan makna. Hal ini tidak bisa disamakan dengan menulis bagi mereka yang pada tahap lanjutan. Kecuali hal ini sebagai sebuah pertanda dari tidak adanya perubahan dan peningkatan.
Berbicara tentang tulis menulis ini, banyak hal persuasive yang memonpa ketertarikan tapi jarang diperhatikan. Entah itu kata-kata bijak, pepatah atau petuah-petuah yang berasal dari mereka yang melegenda bahkan dari Tuhan lewat agama. Kalau pepatah Arab mengatakan man hafidza farra wa man kataba qarra (barang saiapa menyimpan sesuatu (ide) dalam bentuk hafalan akan menghilang, sedangkan mereka yang menyimpan sesuatu dalam bentuk sebuah tulisan akan tetap dalam keabadian). Sebuah tulisan selalu menjadi wakil manusia dalam sebuah kehidupan sementara mereka dalam kematian. Dan mereka yang tidak pernah menulis sebenarnya telah menjemput kematiannya terlebih dahulu sebelum waktu yang ditentukan.
Untuk menjadi seorang penulis sebenarnya tidaklah sulit. Tulis menulis bukanlah sesuatu yang dibatasi oleh bakat. Seseorang hanya membutuhkan keinginan kuat yang ditopang oleh sebuah impian agar lebih progresif. Berawal dari sebuah oret-oretan yang kadang menggelikan sampai pada sebuah tulisan yang dipertimbangkan. Semua ini membutuhkan kesabaran, tidak seperti sulap yang dapat merubah keadaan dalam sekali pandang. Tuhan saja dalam penciptaan mengajarkan bahwa prose situ merupakan keniscayaan.
Berbagai kegagalan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Padanya kita belajar untuk lebih tanggap dan pintar, menjadikannya sebagai cemeti yang membuat kita lari lebih kencang dalam menggapai sebuah harapan. Bukan lantas tertunduk lesu dan membiarkan kesempatan terus berlalu. Kalau kita mengerti tentang waktu, tak mungkin kita biarkan semuanya berlalu tanpa mengerjakan sesuatu yang lebih berarti sementara dia tidak datang dua kali.
Mencoba dan terus mencoba tanpa lelah apa lagi sampai menyerah. Mencari celah di mana ada salah agar tulisan kita semakin sempurna. Hal ini menjadi sesuatu yang penting. Dan hanya mereka yang gila yang setia pada salah dengan lelah dan menyerah. Tidak berani berpacu dengan waktu dan membiarkan dirinya terbunuh.
Dalam sebuah pembelajaran, rasa malu terkadang sering mengganggu. Memaksa kita untuk terus membeku dan bangga pada kebodohan yang terus membelenggu. Pada akhirnya kita terus mengeluh. Mengharapkan sesuatu datang lebih dahulu tanpa dijemput dengan waktu. Hal ini menjadi hal aneh yang sering dianggap remeh. Mereka yang malu sebenarnya tidak tahu kalau sikapnya akan membuat dirinya jauh lebih merasa malu pada suatu waktu. Dan terkadang rasa malu sebenarnya merupakan implementasi dari ketidakjujuran atau kemalasan yang tersimpan. Semua ini perlu dilawan jika kita masih yakin kalau kehidupan masih panjang, bahkan setelah kematian.
Untuk menulis, kita tidak perlu terikat dengan waktu. Kapan pun dan di mana pun, kita bisa mengerjakan hal itu. Setiap ide itu datang, kita harus langsung salurkan dalam tulisan. Jangan sampai menunda-nunda dengan berbagai alasan yang justru membiarkannya hilang. Tidak ada alasan tempat yang tidak bisa digunakan untuk menulis. Di terminal, pasar, di tempat antrian semua bisa digunakan. Apa lagi di dunia moderen seperti sekarang yang semuanya serba disediakan. Tidak seperti zaman dahulu yang menulis hanya dalam buku. Sekarang ada laptop, note book, hp yang sangat menunjang untuk selalu berkarya di mana saja.

“Bunga Layon si Pembawa Berkah”





Di mana ada keramaian, para penjual makanan tidak akan pernah lupa  mengisi tempat-tempat kosong untuk berjualan. Hal ini memang sudah menjadi keniscayaan. Kecuali para penjual bunga di area wisata religious tempat peristirahatan terakhir dua tokoh Islam dan bangsa ini. Masalahnya di berbagai tempat ziarah lainnya seperti di Wali Songo misalnya belum diketemukan hal ini. Yang justru memadati tempat ziarah kebanyakan biasanya adalah para penjual kopyah, tasbih atau berbagai hal lain yang biasa digunakan dalam sebuah perjalanan spiritual. Ada apa sebenarnya dengan bunga-bunga ini? Samakah bunga-bunga tersebut dengan bunga pada umumnya?.
Di tangan pedagang, bunga-bunga ini sama saja dengan bunga pada umumnya yang dipetik dari pohon dan akan layu pada waktunya. Namun, hal ini berbeda saat bunga-bunga tersebut berada di tangan para peziarah di Pesarean Gunung Kawi setelah ditaburkan di atas makam dua tokoh besar Raden Mas Zakaria II (alias Mbah Djoego) dan Mbah Raden Mas Iman Soedjono.
Para peziarah di Pesarean Gunung Kawi memang dianjurkan untuk membawa bunga yang mudah didapatkan di sana dari sekian banyak pedagang bunga. Nantinya bunga yang dibawa diserahkan kepada Kuncen untuk ditaburkan di atas makam Raden Mas Zakaria II (alias Mbah Djoego) dan Mbah Raden Mas Iman Soedjono. Sementara si peziarah berdoa sesuai keyakinan dan harapan masing-masing di kaki makam.
Sebelum meninggalkan Pesarean, bunga-bunga yang tadi ditaburkan Kuncen di atas makam akan dibungkus sebagian untuk dibawa pulang. Bunga yang dibawa pulang inilah yang disebut dengan “Bunga Layon” yang akan membawa berkah setelah bersemayam di atas makam. Bunga ini telah dialiri kukuatan dua tokoh karismatik dalam sejarah.
Selanjutnya, bunga Layon tersebut sesampainya di rumah masing-masing dibuka dan dibuat mandi. Hal ini dilakukan untuk mendapat keselamatan dan beberapa hal lain yang sudah menjadi kepercayaan. Walaupun hal ini terkesan mistis, paling tidak mereka dengan kepercayaannya biasa mengambil kemanfaatan dari hal ini baik dalam menenangkan psikologi mereka atau lainnya.
Selain bunga Layon ini, di sana juga ada air suci (air zam-zamnya Gunung Kawi) yang diambil dari sebuah guci yang ada di sebelah timur pendopo Pesarean. Air ini sebenarnya berasal dari mata air biasa. Hanya saja guci yang menjadi tempat air tersebut yang dipercaya luar biasa. Air ini biasanya diambil untuk diminumkan pada orang sakit yang mengharapkan kesembuhan juga diminum oleh mereka yang mengharapkan berkah.
Masih banyak hal lain yang bisa digali di Gunung Kawi terkait dengan ritual, mitos dan hal-hal lain yang disakralkan ….. Ikuti terus perjalanan kami AFSEL SUPEl.


Fotografer             : Lancenk Takaek
Penulis                   : Ts@_Ny

Selasa, 12 Februari 2013

Tanggap Wayang




KRITIS ATAU KRISIS




Pemuda merupakan sesuatu yang layak diperhitungkan. Jika dahulu Soekarno membutuhkan sepuluh pemuda untuk merubah dunia, maka di era sekarang dengan embel-embel moderennya seharusnya hanya membutuhkan segelintir saja dari sepuluh pemuda. Terlepas dari pemuda yang bagaimana dan seperti apa, yang jelas fenomena kepemudaan memang harus diperhatikan. Karena mereka-mereka lah yang menentukan jalan selanjutnya, menggantikan yang tua dalam sebuah perjalanan.
Kalian adalah pemuda zaman sekarang dan pemimpin di masa depan "Antum syubbanu al-yaumwarijalu al-ghadi", kata Al-Ghalayain dalam Idzatnya. Para pemuda sebagai aset Negara dan masa depan bangsa ini memang tidak bisa terelakkan. Namun, bagaimana apresiasi mereka terhadap hal ini?Sudah siapkah mereka?Atau siapakah mereka sebenarnya?. Semuanya sering terlupakan dan disia-siakan. Tidak ada lagi kesempatan, kecuali terbuang dalam sebuah permainan.
Mahasiswa banyak menorehkan kiprahnya dalam sejarah, baik sebagai control dan pendamping pemerintah atau sebagai agen perubahan. Banyak label disematkan, mulai dari agen of change, agen of control dan lain-lain pada mereka. Namun semuanya seakan menjadi beban dan terbengkalai dalam sebuah perjalanan. Banyak penurunan dan keterpurukan baik dalam hal semangat, intlektual dan idealisme mahasiswa seiring perkembangan zaman. Mereka mulai terkontaminasi dunia luar.
Mahasiswa yang dielu-elukan sebagai sosok kritis malah mengalami krisis dan perlu dikritisi, walau tidak semuanya tetapi kebanyakan begitu. Sosok kutu buku mulai berkurang, dan mereka mulai muak dengan kajian-kajian. Hal ini dapat dilihat dari berbagai agenda yang minim peminatnya, organisasi-organisasi idealis kemahasiswaan yang sepi anggota. Mereka mulai meninggalkan tradisi lama dan lebih suka hura-hura dan bercanda ria juga cenderung lebih pragmatis.
Tidak sekedar apa yang terpapar di atas, kuliah reguler saja mulai banyak berkurang ditandai dengan banyaknya alpa. Dan ketika ada tugas banyak yang sudah tidak mandiri lagi dalam penunaiannya. Copy paste atau plagiat sudah mejadi kebiasaan. Banyak dari mahasiswa yang menganggap makalah sebagai beban. Namun, apakah yang menjadi problem pokok dalam hal ini?. Akankah hal ini dibiarkan dan terus saja terjadi tanpa ada perubahan?.
 Beberapa hal di atas seharusnya menjadi perhatian utama para guru dan dosen. Tidak sekedar mengukur perkembangan mereka dari ujian-ujian, tugas dan semacamnya sementara di balik itu ada ketidakjujuran. Untuk meminimalisir hal ini, mungkin kita bisa kembali ke peradan dahulu yang tidak lepas dari tulis tangan. Dan sekalipun misalnya apa yang dikerjakan merupakan hasil jiplakan, paling tidak mereka membaca dan menulisnya kembali tidak sekedar print out milik orang lain bahkan tanpa mengetahui apa saja yang ada di dalamnya.
Seseorang untuk menjadi lebih baik kadang kala butuh paksaan. Dan mereka yang memiliki kesadaran selain mengingatkan juga perlu melakukan paksaan. Hanya saja paksaan di sini tidak dalam bentuk kekerasan seperti ancaman-ancaman yang mengarah pada tindak kriminal. Kita bisa bekerja sama dengan dosen untuk merealisasikan hal ini. Misalnya meminta dosen merubah bentuk-bentuk penugasan dan memberikan embel-embel wajib dalam berbagai kegiatan dan kajian. Sehingga tidak boleh tidak mereka akan menghadirinya. Hal ini merupakan langkah awal dan kalaupun mereka yang hadir hanya duduk manis dan tidak aktif, paling tidak mereka sudah bisa berkumpul yang lama-kelamaan juga akan mengalami perubahan.