Menulis, bukanlah kata-kata yang asing lagi didengar. Terlepas dari
menulis yang bagaimana, yang jelas tulis menulis tidak bisa terpisahkan dari
sebuah perjalanan. Namun perlu digaris bawahi bahwa kata menulis bagi anak TK,
SD sampai mahasiswa tidaklah sama. Pada jenjang awal, menulis lebih pada
melukis berbagai karakter di atas sebuah kertassebgai tujuab utama tanpa
memperhatikan makna. Hal ini tidak bisa disamakan dengan menulis bagi mereka
yang pada tahap lanjutan. Kecuali hal ini sebagai sebuah pertanda dari tidak
adanya perubahan dan peningkatan.
Berbicara tentang tulis menulis ini, banyak hal persuasive yang
memonpa ketertarikan tapi jarang diperhatikan. Entah itu kata-kata bijak,
pepatah atau petuah-petuah yang berasal dari mereka yang melegenda bahkan dari
Tuhan lewat agama. Kalau pepatah Arab mengatakan man hafidza farra wa man
kataba qarra (barang saiapa menyimpan sesuatu (ide) dalam bentuk hafalan
akan menghilang, sedangkan mereka yang menyimpan sesuatu dalam bentuk sebuah
tulisan akan tetap dalam keabadian). Sebuah tulisan selalu menjadi wakil
manusia dalam sebuah kehidupan sementara mereka dalam kematian. Dan mereka yang
tidak pernah menulis sebenarnya telah menjemput kematiannya terlebih dahulu
sebelum waktu yang ditentukan.
Untuk menjadi seorang penulis sebenarnya tidaklah sulit. Tulis
menulis bukanlah sesuatu yang dibatasi oleh bakat. Seseorang hanya membutuhkan
keinginan kuat yang ditopang oleh sebuah impian agar lebih progresif. Berawal
dari sebuah oret-oretan yang kadang menggelikan sampai pada sebuah tulisan yang
dipertimbangkan. Semua ini membutuhkan kesabaran, tidak seperti sulap yang
dapat merubah keadaan dalam sekali pandang. Tuhan saja dalam penciptaan
mengajarkan bahwa prose situ merupakan keniscayaan.
Berbagai kegagalan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Padanya
kita belajar untuk lebih tanggap dan pintar, menjadikannya sebagai cemeti yang
membuat kita lari lebih kencang dalam menggapai sebuah harapan. Bukan lantas
tertunduk lesu dan membiarkan kesempatan terus berlalu. Kalau kita mengerti
tentang waktu, tak mungkin kita biarkan semuanya berlalu tanpa mengerjakan
sesuatu yang lebih berarti sementara dia tidak datang dua kali.
Mencoba dan terus mencoba tanpa lelah apa lagi sampai menyerah.
Mencari celah di mana ada salah agar tulisan kita semakin sempurna. Hal ini
menjadi sesuatu yang penting. Dan hanya mereka yang gila yang setia pada salah
dengan lelah dan menyerah. Tidak berani berpacu dengan waktu dan membiarkan
dirinya terbunuh.
Dalam sebuah pembelajaran, rasa malu terkadang sering mengganggu.
Memaksa kita untuk terus membeku dan bangga pada kebodohan yang terus
membelenggu. Pada akhirnya kita terus mengeluh. Mengharapkan sesuatu datang
lebih dahulu tanpa dijemput dengan waktu. Hal ini menjadi hal aneh yang sering
dianggap remeh. Mereka yang malu sebenarnya tidak tahu kalau sikapnya akan
membuat dirinya jauh lebih merasa malu pada suatu waktu. Dan terkadang rasa
malu sebenarnya merupakan implementasi dari ketidakjujuran atau kemalasan yang
tersimpan. Semua ini perlu dilawan jika kita masih yakin kalau kehidupan masih
panjang, bahkan setelah kematian.
Untuk menulis, kita tidak perlu terikat dengan waktu. Kapan pun dan
di mana pun, kita bisa mengerjakan hal itu. Setiap ide itu datang, kita harus
langsung salurkan dalam tulisan. Jangan sampai menunda-nunda dengan berbagai
alasan yang justru membiarkannya hilang. Tidak ada alasan tempat yang tidak
bisa digunakan untuk menulis. Di terminal, pasar, di tempat antrian semua bisa
digunakan. Apa lagi di dunia moderen seperti sekarang yang semuanya serba
disediakan. Tidak seperti zaman dahulu yang menulis hanya dalam buku. Sekarang
ada laptop, note book, hp yang sangat menunjang untuk selalu berkarya di
mana saja.