Minggu, 27 Mei 2012

PERJALANAN




“Kamu juga manusia,,,, sama seperti mereka…
Jika mereka bisa, kenapa kamu tidak…???.”
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Sami, mahasiswa  semester I yang terhitung masih bau kencur di kalangan akademik. Meskipun dia dari keluarga tak berada, namun semangatnya tak semiskin keadaan ekonominya. Kepercayaan diri, kerja keras dan keinginan yang kuat adalah kekayaannya, satu-satunya modal yang dimiliki dalam perjalanan hidupnya menggapai kesuksesan. Hanya itu yang dapat diandalkan dalam merubah nasib diri dan keluarganya. Ketidakpastian perjalanan hidup adalah kepastiannya dalam menatap masa depan, peluang merubah keadaan.
“Tuhan tidak memberiku kepastian sebagai orang kecil yang terkucilkan,,,, dan masih terbuka peluang yang sangat besar untuk merubah keadaan… Sebesar kemauan yang ada”.
Dia selalu bergumam dalam kesendirian, dan itulah rahasia dirinya dalam menjaga semangatnya yang bak cadas, tak pernah surut melawan arus. Tak ada lagi ujian kecuali sebagai peringatan Tuhan. Tak ada lagi kegagalan kecuali sebagai cambuk dalam merubah keadaan. Jika hidup ini adalah jalan terjal, tak mungkin Tuhan menciptakan manusia tanpa sanggup melewatinya. Dan semuanya tergantung pada masing-masing dalam berproses. Berawal dari kelahiran tanpa warisan, kecuali tarikan nafas yang bisa saja panjang atau kematian. Dan manusia menciptakan takdirnya sendiri setelah Tuhan.
“Dunia terbangun di atas kebahagiaan, tak ada lagi kekecewaan dan kesedihan saat manusia merubah cara pandang. Bukankah kebahagiaan, kesedihan, keindahan tidak melekat pada objeknya. Tetapi bagaimana seseorang memandang dan merasakan…???”. Jawabnya  ketika ditanya tentang hidupnya yang penuh kesulitan.
Kejadian enam tahun yang lalu memang sangat menyakitkan. Kematian sang ayah sebagai penopang satu-satunya ekonomi keluarga telah benyak merubah jalur hidupnya. Mimpi-mimpi yang dibangun sebelumnya seakan ikut terkubur bersama sang ayah. Sami yang baru lulus SMP merasa terpukul dan tak lagi memiliki pandangan hidup ke depan…..
”Siapa,,,,, siapa,,,, siapa… yang akan membiayai sekolah dan keluargaku….??? Sementara aku masih kecil, tidak tahu apa-apa, tidak punya siapa-siapa dan masih butuh bahkan sangat butuh semuanya. Tempat berbagi, pemberi semangat dan mendukungku dalam mewujudkan impian”. Gumamnya dalam hati kala itu.
Sarat dilema,,,, patah semangat seakan Tuhan telah mencabut nikmat-Nya. Sampai akhirnya sang paman datang, mengembalikan impiannya yang berantakan. Bukan uang atau barang-barang berharga yang diberikan, tapi sesuatu yang tak dapat diperjual belikan Kesadaran, semangat dan tekat yang bulat yang tak kan pernah habis ditelan masa, tak pernah hancur sepanjang umur. Tapi semakin besar,,,, besar dan besar sampai dia sendiri menjadi orang besar bahkan lebih dari itu.
“Jika kau gantungkan hidupmu pada orangtua, maka pada waktunya dia akan mengalami kematian dan,,, jika demikian dimanakah Tuhan…??? Kau tercipta lengkap dengan rizki dan nasibnya sendiri, bukan karena mereka atau untuk mereka kau hiidup. Tetap tegar dan sabar, kau tidak sendiri dan semuanya butuh proses sebagaimana kau terlahir dan hidup sampai saat ini”. Khatbah pamannya menenteramkan dirinya.
Beberapa bulan kemudian,,, Sami menemukan senyumnya kembali. Dia mulai sibuk dengan sekolahnya dan kegiatan pondok yang dihuninya beberapa bulan setelah kematian. Sekolah yang biasa-biasa saja dan pondok di pelosok desa tak membuat hatinya kecil. Dia justru bersemangat dan menjalani semuanya dengan sunguh-sungguh. Bukan sekolah yang mentereng yang menjanjikan kesuksesan, tapi semangat dan sikap para pelajarnya yang lebih menjanjikan. Dia ingin membuktikan semua itu, berangkat dari perjalanan sejarah dalam menggapai senyum yang sebelumnya hilang. Dia ingin membahagiakan semua orang. Dia tak ingin mengecewakan mereka-mereka yang memberinya kepercayaan untuk hidup kembali.
Empat tahun telah berlalu,,, tak terasa Sami sudah satu tahun mengabdi setelah lulus sekolah. Dia sudah tidak kecil lagi, dan pikirannya sudah dewasa. Dia terusik kata-kata Kiainya “ Kamu sudah dewasa, tak pantas kau bergntung pada orangtua. Bahkan, mungkin dia tak pernah sekolah, tak adakah rasa malu?. Sudah saatnya kau hidup dengan tanganmu sendiri, kewajiban nafkah hanya sampai baligh dan selebihnya adalah shadaqah orangtuamu…”
Begitu mengganggu,,,Pikirannya mulai menjalar, menalar mencari jalan keluar dalam mencapai impian tanpa mengembalikan diri pada nasib dan keluarga. Sekedar tamat SMA seakan tak memberikannya apa-apa, dia ingin kuliah demi memburu cita-cita yang dibangun sebelumnya. Di tengah-tengah kemiskinan dan krisis dukungan ke depan, dia terbangun dengan tekat bulat dan nekat dalam perhitungan. Terinspirasi kata-kata seorang khas di kampungnya, “Tak kan pernah menemukan keajaiban, kecuali mereka yang nekat”.
 “Merantau,,,,,ya merantau…Cari kerja, terlepas dari tanggungan orang tua dan kuliah”. Gumamnya suatu malam. Namun, tradisi atau kebiasaan orang desa tidaklah mendukung. Banyak rintangan yang harus dihadapi sebelum berangkat ke perantauan. Dia tak ingin meninggalkan kesan-kesan jelek dan tidak enak didengar di masyarakat. Orang-orang desa yang suka gossip dan gampang termakan olehnya dapat saja melahirkan masalah.
Beberapa bulan kemudian, niat Sami baru tersampaikan. Dia merantau ke kota seberang. Bukan dengan bekal yang cukup atau uang yang numpuk. Dia berangkat dengan semangat dan kemauan keras. Mengagantungkan harapannya di seberanga, berharap besar akan perubahan. Dalam keyakinannya, Tuhan akan selalu bersamanya dimanapun dia berada. Tak ada lagi kata seniri dan sepi, atau ketakutan yang membebani.
Pengalaman,,, ya pengalaman…. Dia banyak belajar darinya. Kalau dulunya di sekolah dia banyak berkutat dengan buku-buku dan konsep, sekarang dia terjun dalam menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Bukan mereka, dia atau siapa-siapa yang bercerita, tetapi dirinya sendiri dalam realita.
Keras,,,, keras…… Begitu keras kehidupan kota. Semuanya membentuk kepribadannya, tak kenal lelah dan menyerah. Kecuali sudah tak sanggup lagi melangkah. Kesengsaraan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi bagaimana seseorang menyikapi dan mensyukuri, dengan mengambil pelajaran darinya. Itulah cara Tuhan mempersiapkan hamba-Nya sebelum merengkuh kesuksesan, agar dia tak lupa dan terbuai dalam kelalaian. Sami selalu ingat kata-kata guru SMA-nya, “Jika kau ingin sukses, maka hargailah proses….!!!”.
Kerja,,, kerja dan kerja… Sisihkan uang untuk kuliah. Dari kerja yang berat-berat sampai di bawah ruang ber-AC, semua Sami lalui dengan senang hati. Demi mewujudkan impiannya, sementara dia sisihkan dulu romantisme. Yang terpenting apa yang diimpikan menjadi kenyataan. Tidak seperti pemuda lain yang mendahulukan pacaran. Dia tak pernah menggubris ejekan yang diarahkan padanya.
Dua tahun sudah terlewati, Sami dengan semangat dan kerja kerasnya dapat mewujudkan impiannya untuk kuliah dengan hasil jerih payahnya sendiri. Bahkan dia sanggup membantu orangtuanya meskipun tak seberapa. Dia sangat bahagia. Berangkat dari keadaan yang serba pas-pasan, dia sanggup mewujudkan impian. Dia sanggup membuktikan pada semuanya bahwa harta bukanlah jaminan akan kesuksesan, tapi semangat dan kerja keras tanpa mengenal putus asalah yang lebih berperan. Kemauan, kesungguhan dan impian itulah awal dari segalanya.

By: tS@_Ny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar