“Kamu juga manusia,,,, sama seperti mereka…
Jika mereka bisa, kenapa kamu tidak…???.”
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Sami, mahasiswa semester I yang terhitung masih bau kencur di
kalangan akademik. Meskipun dia dari keluarga tak berada, namun semangatnya tak
semiskin keadaan ekonominya. Kepercayaan diri, kerja keras dan keinginan yang
kuat adalah kekayaannya, satu-satunya modal yang dimiliki dalam perjalanan
hidupnya menggapai kesuksesan. Hanya itu yang dapat diandalkan dalam merubah
nasib diri dan keluarganya. Ketidakpastian perjalanan hidup adalah kepastiannya
dalam menatap masa depan, peluang merubah keadaan.
“Tuhan tidak memberiku kepastian sebagai orang kecil yang
terkucilkan,,,, dan masih terbuka peluang yang sangat besar untuk merubah
keadaan… Sebesar kemauan yang ada”.
Dia selalu bergumam dalam kesendirian, dan itulah rahasia dirinya
dalam menjaga semangatnya yang bak cadas, tak pernah surut melawan arus. Tak
ada lagi ujian kecuali sebagai peringatan Tuhan. Tak ada lagi kegagalan kecuali
sebagai cambuk dalam merubah keadaan. Jika hidup ini adalah jalan terjal, tak
mungkin Tuhan menciptakan manusia tanpa sanggup melewatinya. Dan semuanya
tergantung pada masing-masing dalam berproses. Berawal dari kelahiran tanpa
warisan, kecuali tarikan nafas yang bisa saja panjang atau kematian. Dan
manusia menciptakan takdirnya sendiri setelah Tuhan.
“Dunia terbangun di atas kebahagiaan, tak ada lagi kekecewaan dan
kesedihan saat manusia merubah cara pandang. Bukankah kebahagiaan, kesedihan,
keindahan tidak melekat pada objeknya. Tetapi bagaimana seseorang memandang dan
merasakan…???”. Jawabnya ketika ditanya
tentang hidupnya yang penuh kesulitan.
Kejadian enam tahun yang lalu memang sangat menyakitkan. Kematian
sang ayah sebagai penopang satu-satunya ekonomi keluarga telah benyak merubah
jalur hidupnya. Mimpi-mimpi yang dibangun sebelumnya seakan ikut terkubur
bersama sang ayah. Sami yang baru lulus SMP merasa terpukul dan tak lagi
memiliki pandangan hidup ke depan…..
”Siapa,,,,, siapa,,,, siapa… yang akan membiayai sekolah dan
keluargaku….??? Sementara aku masih kecil, tidak tahu apa-apa, tidak punya
siapa-siapa dan masih butuh bahkan sangat butuh semuanya. Tempat berbagi,
pemberi semangat dan mendukungku dalam mewujudkan impian”. Gumamnya dalam hati
kala itu.
Sarat dilema,,,, patah semangat seakan Tuhan telah mencabut
nikmat-Nya. Sampai akhirnya sang paman datang, mengembalikan impiannya yang
berantakan. Bukan uang atau barang-barang berharga yang diberikan, tapi sesuatu
yang tak dapat diperjual belikan Kesadaran, semangat dan tekat yang bulat yang
tak kan pernah habis ditelan masa, tak pernah hancur sepanjang umur. Tapi
semakin besar,,,, besar dan besar sampai dia sendiri menjadi orang besar bahkan
lebih dari itu.
“Jika kau gantungkan hidupmu pada orangtua, maka pada waktunya dia
akan mengalami kematian dan,,, jika demikian dimanakah Tuhan…??? Kau tercipta
lengkap dengan rizki dan nasibnya sendiri, bukan karena mereka atau untuk
mereka kau hiidup. Tetap tegar dan sabar, kau tidak sendiri dan semuanya butuh
proses sebagaimana kau terlahir dan hidup sampai saat ini”. Khatbah pamannya menenteramkan
dirinya.
Beberapa bulan kemudian,,, Sami menemukan senyumnya kembali. Dia
mulai sibuk dengan sekolahnya dan kegiatan pondok yang dihuninya beberapa bulan
setelah kematian. Sekolah yang biasa-biasa saja dan pondok di pelosok desa tak
membuat hatinya kecil. Dia justru bersemangat dan menjalani semuanya dengan
sunguh-sungguh. Bukan sekolah yang mentereng yang menjanjikan kesuksesan, tapi
semangat dan sikap para pelajarnya yang lebih menjanjikan. Dia ingin
membuktikan semua itu, berangkat dari perjalanan sejarah dalam menggapai senyum
yang sebelumnya hilang. Dia ingin membahagiakan semua orang. Dia tak ingin
mengecewakan mereka-mereka yang memberinya kepercayaan untuk hidup kembali.
Empat tahun telah berlalu,,, tak terasa Sami sudah satu tahun
mengabdi setelah lulus sekolah. Dia sudah tidak kecil lagi, dan pikirannya
sudah dewasa. Dia terusik kata-kata Kiainya “ Kamu sudah dewasa, tak pantas kau
bergntung pada orangtua. Bahkan, mungkin dia tak pernah sekolah, tak adakah
rasa malu?. Sudah saatnya kau hidup dengan tanganmu sendiri, kewajiban nafkah
hanya sampai baligh dan selebihnya adalah shadaqah orangtuamu…”
Begitu mengganggu,,,Pikirannya mulai menjalar, menalar mencari
jalan keluar dalam mencapai impian tanpa mengembalikan diri pada nasib dan
keluarga. Sekedar tamat SMA seakan tak memberikannya apa-apa, dia ingin kuliah
demi memburu cita-cita yang dibangun sebelumnya. Di tengah-tengah kemiskinan
dan krisis dukungan ke depan, dia terbangun dengan tekat bulat dan nekat dalam
perhitungan. Terinspirasi kata-kata seorang khas di kampungnya, “Tak kan
pernah menemukan keajaiban, kecuali mereka yang nekat”.
“Merantau,,,,,ya
merantau…Cari kerja, terlepas dari tanggungan orang tua dan kuliah”. Gumamnya
suatu malam. Namun, tradisi atau kebiasaan orang desa tidaklah mendukung.
Banyak rintangan yang harus dihadapi sebelum berangkat ke perantauan. Dia tak
ingin meninggalkan kesan-kesan jelek dan tidak enak didengar di masyarakat.
Orang-orang desa yang suka gossip dan gampang termakan olehnya dapat saja
melahirkan masalah.
Beberapa bulan kemudian, niat Sami baru tersampaikan. Dia merantau
ke kota seberang. Bukan dengan bekal yang cukup atau uang yang numpuk. Dia
berangkat dengan semangat dan kemauan keras. Mengagantungkan harapannya di
seberanga, berharap besar akan perubahan. Dalam keyakinannya, Tuhan akan selalu
bersamanya dimanapun dia berada. Tak ada lagi kata seniri dan sepi, atau
ketakutan yang membebani.
Pengalaman,,, ya pengalaman…. Dia banyak belajar darinya. Kalau
dulunya di sekolah dia banyak berkutat dengan buku-buku dan konsep, sekarang
dia terjun dalam menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Bukan mereka, dia atau siapa-siapa
yang bercerita, tetapi dirinya sendiri dalam realita.
Keras,,,, keras…… Begitu keras kehidupan kota. Semuanya membentuk
kepribadannya, tak kenal lelah dan menyerah. Kecuali sudah tak sanggup lagi
melangkah. Kesengsaraan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi bagaimana
seseorang menyikapi dan mensyukuri, dengan mengambil pelajaran darinya. Itulah
cara Tuhan mempersiapkan hamba-Nya sebelum merengkuh kesuksesan, agar dia tak
lupa dan terbuai dalam kelalaian. Sami selalu ingat kata-kata guru SMA-nya,
“Jika kau ingin sukses, maka hargailah proses….!!!”.
Kerja,,, kerja dan kerja… Sisihkan uang untuk kuliah. Dari kerja
yang berat-berat sampai di bawah ruang ber-AC, semua Sami lalui dengan senang
hati. Demi mewujudkan impiannya, sementara dia sisihkan dulu romantisme. Yang
terpenting apa yang diimpikan menjadi kenyataan. Tidak seperti pemuda lain yang
mendahulukan pacaran. Dia tak pernah menggubris ejekan yang diarahkan padanya.
Dua tahun sudah terlewati, Sami dengan semangat dan kerja kerasnya dapat
mewujudkan impiannya untuk kuliah dengan hasil jerih payahnya sendiri. Bahkan
dia sanggup membantu orangtuanya meskipun tak seberapa. Dia sangat bahagia. Berangkat
dari keadaan yang serba pas-pasan, dia sanggup mewujudkan impian. Dia sanggup
membuktikan pada semuanya bahwa harta bukanlah jaminan akan kesuksesan, tapi
semangat dan kerja keras tanpa mengenal putus asalah yang lebih berperan.
Kemauan, kesungguhan dan impian itulah awal dari segalanya.
By: tS@_Ny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar